Jawab Kebutuhan Imam dan Pembina Umat, Dakwah Ustaz Garis Depan Ponpes Al-Fath Tembus Jepang

Wartawan M. Ikram

Pelitasukabumi.id – Kebutuhan tenaga imam dan pembimbing keagamaan di sejumlah komunitas Muslim Jepang membuka ruang bagi ekspansi dakwah Indonesia ke tingkat internasional.

Melalui program Ustaz Garis Depan, Pondok Pesantren Modern Al-Fath Sukabumi bersama sejumlah lembaga terkait menyiapkan pengiriman tenaga pendakwah untuk memperkuat kehidupan keagamaan umat Islam di Negeri Sakura.

Program tersebut dirancang bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan imam salat, melainkan juga menghadirkan pendamping keagamaan yang mampu menghidupkan kegiatan masjid, memberikan pemahaman Islam, serta membimbing komunitas Muslim dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Pimpinan Ponpes Modern Al-Fath, KH. Fajar Laksana, menjelaskan bahwa program pengiriman ustaz ke Jepang merupakan pengembangan dari gerakan Ustaz Garis Depan yang sebelumnya dilaksanakan di Pulau Buru.

Inisiatif dakwah tersebut mendapat apresiasi dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Dukungan itu kemudian menjadi salah satu pijakan untuk memperluas jangkauan program hingga menjawab kebutuhan pembinaan umat Islam di luar negeri.

Menurut Kiai Fajar, gagasan pengiriman ustaz ke Jepang berawal dari permintaan langsung komunitas Muslim setempat. Sejumlah daerah, mulai dari Ibaraki hingga Nagoya, membutuhkan tenaga imam sekaligus pembimbing yang dapat mengelola dan mengembangkan aktivitas keagamaan di masjid.

“Permintaan pengiriman ustaz datang langsung dari komunitas Muslim di Jepang. Sejumlah wilayah, mulai dari Ibaraki hingga Nagoya, memiliki masjid yang membutuhkan tenaga imam sekaligus pembimbing keagamaan,” kata Kiai Fajar, Kamis (5/11/2026).

Ia mengungkapkan, keterbatasan sumber daya manusia untuk mengelola kegiatan masjid menjadi salah satu persoalan yang hendak dijawab melalui program tersebut. Kehadiran ustaz dari Indonesia diharapkan dapat membantu memastikan aktivitas keagamaan komunitas Muslim tetap berjalan secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, pemberangkatan ustaz dijadwalkan secara bergiliran setiap bulan, yakni pada rentang tanggal 13 hingga 19. Adapun mekanisme penugasan dilakukan melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan periode tiga bulan sekali.

“Penugasan menggunakan mekanisme nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan periode tiga bulan sekali,” ujarnya.

Dari aspek pembiayaan, komunitas Muslim di Jepang menanggung seluruh fasilitas dan kebutuhan ustaz selama menjalankan tugas di negara tersebut. Sementara proses pemberangkatan dikoordinasikan secara mandiri melalui kolaborasi berbagai pihak yang terlibat dalam program.

Dukungan kelembagaan juga menjadi bagian penting dalam memastikan pelaksanaan dakwah lintas negara tersebut berjalan sesuai ketentuan. Kemenag memberikan rekomendasi resmi sekaligus izin keberangkatan bagi para ustaz yang ditugaskan untuk kepentingan dakwah di luar negeri.

Baca Juga :  Belasan Aduan Masyarakat di Aplikasi E-Lapor Masih Seputar Fasilitas Umum dan Kepegawaian

Baznas turut mendukung pengembangan program, terutama dalam memperkuat fasilitasi kegiatan dakwah hingga menjangkau wilayah yang membutuhkan perhatian khusus.

Sementara itu, Kopertais berperan membantu koordinasi keterlibatan mahasiswa magang agar kegiatan dakwah dapat diselaraskan dengan pemenuhan pengakuan satuan kredit semester (SKS) dalam perkuliahan.

Adapun Izmi mengambil bagian dalam pembinaan intelektual dan mahasiswa, sehingga mereka memiliki kesiapan untuk terlibat langsung dalam aktivitas dakwah dan berinteraksi dengan masyarakat.

Sinergi antarlembaga tersebut diharapkan dapat menghasilkan tenaga pendakwah yang tidak hanya memiliki bekal pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan sosial dan budaya di negara tujuan.

Tugas para ustaz selama berada di Jepang pun mencakup ruang pengabdian yang cukup luas. Selain menjadi imam salat, mereka bertanggung jawab menghidupkan kegiatan masjid melalui pengajian harian maupun malam, memimpin salat tarawih, menyelenggarakan kegiatan keagamaan pada hari-hari besar Islam, hingga memberikan bimbingan mengenai tata cara pengurusan jenazah.

Pembinaan juga diarahkan pada penguatan pemahaman fikih praktis yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Pembinaan mencakup pemahaman fikih praktis, mulai dari tata cara ibadah, persoalan muamalah, hingga pengelolaan dan pemahaman zakat,” kata Fajar.

Dengan cakupan tugas tersebut, para ustaz diharapkan menjadi rujukan bagi komunitas Muslim ketika menghadapi berbagai persoalan keagamaan. Pendampingan ini sekaligus menjadi upaya menjaga keberlangsungan praktik dan kehidupan beragama masyarakat Muslim migran di tengah lingkungan sosial Jepang.

Meski sasaran utamanya komunitas Muslim, aktivitas dakwah juga terbuka untuk memberikan penjelasan mengenai ajaran Islam kepada masyarakat non-Muslim. Dengan demikian, keberadaan ustaz tidak hanya berorientasi pada pelayanan internal umat, tetapi juga membuka ruang pengenalan Islam melalui pembinaan dan interaksi sosial.

Program Ustaz Garis Depan ke Jepang menjadi salah satu bentuk perluasan pengabdian dakwah yang melampaui batas geografis. Kolaborasi kelembagaan, dukungan komunitas Muslim setempat, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi unsur penting dalam menjawab kebutuhan pelayanan keagamaan di luar negeri.

Melalui program ini, dakwah Indonesia diharapkan semakin mampu menjangkau komunitas Muslim internasional sekaligus menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *