Wartawan Iyus Firdaus
Pelitasukabumi.id – Cuaca ekstrem masih menjadi penyebab utama bencana yang terjadi di Kota Sukabumi sepanjang tujuh bulan pertama 2026.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi sebanyak 186 kejadian bencana terjadi selama periode 1 Januari hingga 31 Juli 2026 dengan total kerugian mencapai Rp6,692 miliar.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, mengatakan seluruh kejadian tersebut berdampak terhadap 180 kepala keluarga (KK) atau 431 jiwa.
Akibatnya sebanyak 178 bangunan mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang hingga berat.
“Mengacu data Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan), bencana akibat cuaca ekstrem mendominasi dengan 149 kejadian,” kata Yoseph, Jumat (7/8/2026).
Di pososi berikutnya yaitu kebakaran permukiman di mana tercatat sebanyak 22 kejadian, tanah longsor tujuh kejadian, banjir lima kejadian, dan gempa bumi tiga kejadian.
“Selama Januari hingga Juli 2026 terdapat 186 kejadian bencana yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Sukabumi. Total kerugian mencapai Rp6,692 miliar dengan 431 jiwa terdampak serta 178 bangunan mengalami kerusakan,” terang dia.
Dari sisi nilai kerugian, cuaca ekstrem juga menjadi penyumbang terbesar dengan total kerugian sekitar Rp3,573 miliar.
Disusul kebakaran permukiman sebesar Rp2,802 miliar, tanah longsor Rp252 juta, serta gempa bumi sekitar Rp64,5 juta.
Dia menambahkan, berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Warudoyong menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 37 kasus.
Berikutnya Kecamatan Citamiang 30 kasus, Baros 29 kasus, Cikole 27 kasus, Lembursitu 23 kasus, Cibeureum 22 kasus, dan Gunung Puyuh 18 kasus.
Pada bagian lain ia menjelaskan tingginya frekuensi bencana tidak terlepas dari kondisi iklim.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada Dasarian III Juli 2026, fenomena El Nino dengan intensitas kuat masih berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat.
Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi cuaca ekstrem serta dampak musim kemarau yang dapat memicu kekeringan maupun bencana lainnya.
BPBD Kota Sukabumi, lanjut Yoseph, terus memperkuat upaya mitigasi melalui berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari prabencana, tanggap darurat hingga pascabencana.
Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan.
“Selain penanganan di lapangan, kami juga terus melaksanakan sosialisasi, edukasi kebencanaan di sekolah, simulasi kesiapsiagaan, hingga penyaluran bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan,” tandasnya.

