Ponpes Al-Fath Gandeng HATI Kembangkan Varietas Alpukat Unggul Asli Sukabumi

Pelitasukabumi.id – Peluang Alpukat Genjah Unggul Sukabumi (AGUS) untuk menembus pasar internasional mulai dibuka melalui jaringan pondok pesantren.

Hikmah Tani Indonesia (HATI) menggandeng pesantren untuk memperluas budidaya sekaligus membangun kekuatan produksi komoditas unggulan asal Sukabumi tersebut.

Pengembangan Alpukat AGUS menjadi salah satu materi dalam program Pesantren Multi Produk (PMP) yang digagas Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, KH. Fajar Laksana.

Program ini dirancang untuk mendorong pesantren memiliki usaha produktif sehingga mampu membiayai kegiatan pendidikan dan sosial secara mandiri.

KH. Fajar Laksana mengatakan PMP diikuti sekitar 50 peserta dari 25 pondok pesantren yang datang dari berbagai daerah, di antaranya Jawa Barat, Jakarta, Banten, Maluku hingga Papua.

Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan materi kewirausahaan, tetapi juga diperkenalkan dengan konsep integrated farm serta sejumlah keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan pesantren.

“Yang pertama seminar tentang integrated farm dan wirausaha. Kemudian peserta diberikan beberapa keterampilan yang harus dikuasai, seperti mendirikan pabrik tahu, pabrik sandal, membuat kaos jersey dan mengolah obat herbal,” ujar KH. Fajar, Rabu (26/8/2026).

Untuk sektor pertanian dan peternakan, peserta mendapatkan pelatihan budidaya lele, maggot serta pemanfaatan limbah kotoran hewan menjadi pupuk dan pakan.

Alpukat AGUS menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian khusus. Pesantren diarahkan menguasai teknik penanaman dan perawatannya, sedangkan hasil produksi nantinya dapat diserap dan dipasarkan melalui jaringan HATI.

“Pesantren belajar menanam dan membudidayakan Alpukat AGUS. Untuk pemasarannya sudah disiapkan oleh HATI. Jadi hasilnya nanti diterima dan disalurkan untuk dipasarkan,” katanya.

KH. Fajar menilai pola tersebut dapat menjadi model baru pemberdayaan ekonomi pesantren. Dengan memiliki unit usaha sendiri, pesantren diharapkan tidak terus bergantung pada bantuan maupun pungutan kepada santri.

“Kita ingin mereplikasikan bagaimana pesantren mandiri dan punya wirausaha. Sehingga pesantren tidak perlu meminta biaya kepada santrinya dan tidak bergantung kepada bantuan, tetapi membangun usaha sendiri,” tegasnya.

Bahkan, pengembangan alpukat tersebut menurutnya memiliki manfaat sosial yang lebih luas. Ia menyebut tiga pohon Alpukat AGUS yang dikelola secara produktif dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan beasiswa bagi anak yatim, piatu dan dhuafa.

“Sudah kita laksanakan. Tiga pohon alpukat bisa memberikan beasiswa sekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Kalau satu hektare kurang lebih 100 pohon, potensinya bisa memberikan beasiswa bagi sekitar 70 santri,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ayep Zaki Pastikan Sapi Kurban Presiden Prabowo di Ponpes Miftahus Sa'adah Dalam Kondisi Sehat

Di sisi lain, Ustadz Acep atau biasa dipanggil Abu dari HATI menyebut Alpukat AGUS memiliki prospek pasar yang besar. Produk tersebut merupakan Alpukat Genjah Unggul Sukabumi yang dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan bersama para pakar.

“Ini kebanggaan Sukabumi. Alpukat AGUS merupakan hasil penelitian dan pengembangan. Keunggulannya sudah mendapat pengakuan dan sekarang terus kita kembangkan,” ujarnya.

Menurut Ustadz Abu, salah satu peluang terbesar yang tengah dibidik adalah pasar Jepang. Bahkan, permintaan dari negara tersebut disebut mencapai sekitar 20 ton per hari.

Persoalannya, kapasitas produksi saat ini masih jauh dari kebutuhan pasar.

“Jepang sudah meminta 20 ton setiap hari. Sementara kekuatan laboratorium kami baru sekitar tiga ton per enam bulan. Karena itu kita harus melibatkan jamaah dan para petani melalui jaringan pondok pesantren,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi alasan HATI mendorong perluasan penanaman melalui jaringan pesantren. Dengan semakin banyak petani dan pesantren yang terlibat, kapasitas produksi diharapkan dapat ditingkatkan secara bertahap.

Namun, Ustadz Abu menekankan bahwa pengembangan Alpukat AGUS tidak dilakukan sekadar dengan membagikan bibit. Calon pembudidaya harus memahami terlebih dahulu teknik budidaya agar kualitas tanaman dan buah tetap terjaga.

“Ikuti dulu pendidikannya, bagaimana cara mengembangkan dan merawatnya. Setelah itu bisa mendapatkan bibit dan kerja sama melalui HATI atau Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath,” katanya.

Alpukat AGUS juga disebut memiliki daya tahan yang mendukung pengiriman jarak jauh. Ustadz Abu mengatakan, buah tersebut telah diuji dalam pengiriman ke Jepang dan mampu bertahan tanpa pendingin.

“Setelah dikirim ke Jepang, enam hari kemudian matang dan setelah itu bisa bertahan sekitar tiga minggu. Tanpa pendingin dan tetap aman,” ungkapnya.

Dengan masa panen sekitar enam bulan, Alpukat AGUS dinilai memiliki potensi ekonomi yang menarik karena dapat dipanen hingga dua kali dalam setahun.

Ustadz Abu berharap pengembangan komoditas tersebut menjadi gerakan bersama antara pesantren, petani, masyarakat dan pemerintah daerah.

“Ini kebanggaan Sukabumi. Karena itu harus didukung masyarakat Sukabumi dan pemerintah, baik Kota maupun Kabupaten Sukabumi,” pungkasnya.

Jika pengembangan berjalan konsisten, Alpukat AGUS berpeluang menjadi lebih dari sekadar komoditas pertanian.

Melalui jaringan pesantren, komoditas ini diharapkan mampu menciptakan lapangan ekonomi baru, memperkuat kemandirian pesantren dan membuka jalan bagi produk Sukabumi memasuki pasar global.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *