Nabi Dan Rasul

Oleh. Ust. Lathief Abdallah(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)

Pelitasukabumi.id Allah menciptakan manusia memiliki tujuan yaitu untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat. Agar manusia tidak tersesat, Allah mengutus para Nabi dan Rasul di setiap zaman dan setiap umat.

“Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan” (QS. Fathir : 24)

Kata “nubuwat dan nabi” berasal dari kata Naba’ bermakna Khabar (kabar, berita, informasi). “Anin-naba`il-‘azhiim artinya tentang berita yang besar” Dalam Al Qur’an juz 30, surat awal (ke 78), disebut Surat Annaba. kata “An nabi’ ” merupakan isim fail berposisi maf’ul bermakna orang yang diberi kabar oleh Allah SWT. Jadi makna nubuwwah adalah hubungan antara Maha Pencipta dengan Nabi berupa panyampain berita. Penyampaian berita dari Allah SWT tersebut disebut Wahyu.

Adapunn kata “risalah dan rasul” berasal dari kata arsala. yakni hubungan antara Allah, nabi dan manusia, karena berkaitan erat dengan penyampaian (tabligh). (Al Aqidah Al Islamiyah, DR. Musthafa Said Alkhan, hal:228)

“Para Rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” (QS. Al-Baqarah : 213)

Dalam dzikir harian, riwayat Muslim disebutkan kalimat; Radhiitu billaahi rabbaa wa bil-islaami diinaa wa bi Muhammadin nabiyyan wa rasuulaa”; “Aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan rasul.”

Muhamad bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah rasul (utusan) Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al-Ahzab: 40)

Dalam keterangan diatas ada dua istilah yang disebutkan yaitu nabi dan rasul. Para ulama sedikit berbeda pendapat tentang perbedaan nabi dan rasul. Ada yang menintik beratkan pada risalah (syari’at), ada yang pada penyampaian (tabligh).

Baca Juga :  Cinta Nabi Hanya Di Bulan Maulud ?

Sebagian ulama menjelaskan nabi adalah orang yang menerima wahyu tanpa membawa syariat baru. jika membawa syariat baru maka ia sebagai nabi dan rasul, seperti Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa AS, dan Nabi Musa AS. Sedangkan Harun AS hanya nabi saja karena mengikuti syariat nabi Musa AS. (Subul As Salam, Imam Shan’ani, hal: 9. Asy Syaksiyah Al Islamiyah, An Nabhani, Juz 1, hal: 29.)

Lainnya mengatakan, nabi dan rasul bermakna sama (mutaradif). Artinya setiap nabi adalah rasul dan setiap Rasul adalah nabi. Penyebutan nabi karena ia menerima wahyu, dan penyebutan rasul karena diutus kepada manusia.

Jumhur ulama menjelaskan bahwa nabi adalah setiap orang yang menerima wahyu dan jika diperintahkan untuk tabligh (menyampaikan) risalah ia disebut Rasul. Jadi setiap Rasul adalah nabi namun tidak setiap nabi adalah rasul. (Al Aqidah Al Islamiyah, DR. Musthafa Said Alkhan, hal:228)

Dalam beberapa riwayat hadits menyebutkan jumlah nabi dan rasul secara keseluruhan. Ada riwayat yang menyebut jumlah nabi 120.000 dan 313 rasul, ada yang menyebut 124.000 nabi dan 315 rasul. Hanya saja ada 25 nabi dan rasul berdasar Qur’an dan Sunah yang wajib diketahui dan diyakini atas kenabian dan kerasulannya. Di awali oleh Nabi Adam AS ditutup oleh Nabi Muhammad SAW. (Tabshiru Al Uqala Bi Qishashi al Ambiya, Hisyam Al Kamil,hal:9).

Berkaitan dengan nabi dan rasul adanya mukjizat sebagai bukti pengakuan bahwa seseorang adalah nabi dan rasul. Mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah kitab yang diterimanya yaitu Al Qur’an. Rasul memiliki beberapa sipat antara lain; fathanah (cerdas), amanah (terpercaya), siddiq (jujur), tabligh (menyampaikan), syaja’ah (berani) dan i’shmat (terjaga dari kesalahan).

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *