Wartawan Iyus Firdaus
Pelitasukabumi.id – Media sosial tidak hanya dimanfaatkan Lurah Gunungpuyuh, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Mamat, S.E., M.A.P., sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi instrumen untuk mensosialisasikan berbagai program kerja sekaligus mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Mamat menilai perkembangan teknologi dan kebiasaan masyarakat yang kini hampir tidak lepas dari telepon seluler membuat media sosial menjadi ruang efektif untuk menyampaikan informasi.
Karena itu, berbagai kegiatan dan program kelurahan, termasuk sosialisasi pembayaran pajak, turut disampaikan melalui media sosial.
“Zaman sudah berubah. Masyarakat sudah pasti memegang HP. Selain kita sapa warga secara langsung, sekarang banyak jalan untuk menyampaikan informasi, salah satunya melalui media sosial,” kata Mamat, Selasa (11/8/2026).

Dia menambahkan, pemanfaatan media sosial merupakan bagian dari tuntutan pelayanan di wilayah. Seorang lurah tidak cukup hanya berada di belakang meja, tetapi harus aktif turun ke lapangan dan membangun komunikasi langsung dengan warga.
Pola tersebut diterapkan Mamat sejak dipercaya memimpin Kelurahan Gunungpuyuh yang saat ini memiliki 12 RW dan 44 RT.
Tiga bulan menjalankan tugas, dirinya bersama jajaran terus melakukan pendekatan kewilayahan melalui kunjungan warga, kegiatan kemasyarakatan, pengajian, Posyandu hingga koordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
Dalam hal optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), media sosial kemudian menjadi bagian dari strategi sosialisasi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Setiap akan digelar gerai pajak di lingkungan RW, informasi disebarluaskan terlebih dahulu melalui media sosial dan grup komunikasi RT/RW.
“Dua hari sebelum pelaksanaan, kita wawar di medsos ataupun di grup RT, RW. Itu salah satu sosialisasi kepada RT dan RW,” ujarnya.
Tidak berhenti pada sosialisasi digital, Kelurahan Gunungpuyuh juga menerapkan pola jemput bola. Dalam sepekan, kunjungan kepada warga dilakukan beberapa kali dengan membuka gerai pembayaran pajak di masing-masing wilayah RW maupun RT.
Pelayanan bahkan dilakukan setiap Sabtu untuk menyesuaikan waktu masyarakat yang bekerja pada hari biasa.
Mamat mengatakan pendekatan tersebut dilakukan karena sebagian besar masyarakat Gunungpuyuh merupakan karyawan swasta dan pelaku usaha. Kesibukan warga menjadi salah satu pertimbangan pemerintah kelurahan untuk menghadirkan pelayanan pajak langsung di lingkungan mereka.
“Kalau mereka ke bank, satu menyita waktu. Makanya kita laksanakan jemput bola untuk percepatan pembayaran pajak,” katanya.
Kombinasi antara komunikasi melalui media sosial dan pelayanan langsung tersebut memberikan hasil positif. Hingga akhir Juli 2026, capaian PBB Kelurahan Gunungpuyuh telah mencapai 99,07 persen.
Di tingkat Kecamatan Gunungpuyuh, kelurahan tersebut berada di peringkat pertama capaian PBB, sementara Kecamatan Gunungpuyuh tercatat berada di peringkat ketiga tingkat Kota Sukabumi
Capaian tersebut masih terus dikejar karena pembayaran PBB belum berakhir hingga penghujung tahun.
Kelurahan Gunungpuyuh juga terus berkoordinasi dengan UPT PBB, termasuk melakukan pembaruan data objek pajak di lapangan untuk memastikan potensi pajak tetap terdata secara aktual.
Dengan jumlah wajib pajak PBB sekitar 8.000-an, Mamat menilai keberhasilan meningkatkan penerimaan tidak hanya ditentukan oleh imbauan, tetapi juga bagaimana pemerintah hadir dan memberikan kemudahan kepada masyarakat.
Media sosial menjadi sarana memperluas jangkauan informasi, sementara jemput bola menjadi bentuk pelayanan nyata di lapangan.
“Alhamdulillah, masyarakat menyambut baik karena selain untuk silaturahmi, kita juga mendekatkan masyarakat dengan pembayaran pajak. Itu salah satu PAD yang memang digencarkan melalui program pemerintah,” pungkasnya.

