Pesantren Al-Fath Bangun Kemandirian Berbasis Riset dan Zero Waste

Wartawan Usep Mulyana

Pelitasukabumi.id – Ponpes Modern Al-Fath terus memperkuat perannya sebagai pesantren mandiri dengan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam berbagai program pengembangan berbasis riset dan lingkungan.

Pimpinan Ponpes Al-Fath, KH Fajar Laksana, menjelaskan kolaborasi yang dijalin tidak hanya berfokus pada satu sektor, melainkan mencakup pengembangan keilmuan, kesehatan, hingga pengelolaan lingkungan terpadu.

“Salah satu kerja sama yang telah berjalan adalah penelitian terhadap benda arkeologi dan naskah kuno yang dimiliki pesantren,” kata Kyai Fajar, usai acara Workshop dan Pameran Ekraf dan MOU dengan BRIN, Senin (27/4/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah sekaligus penguatan literasi keilmuan di lingkungan pesantren.

Di sisi lain, pesantren juga mengembangkan produk herbal yang telah dirintis selama puluhan tahun. Produk tersebut kini diarahkan untuk melalui tahapan pengujian ilmiah agar memiliki standar keamanan dan khasiat yang terukur.

Peneliti BRIN, Harto Widodo, menyebutkan sejumlah tanaman obat yang dikembangkan akan masuk tahap uji praklinis dan klinis, sebagai langkah menuju legalitas dan peluang paten.

Baca Juga :  ‎Wali Kota Punya Cita-cita Panjang dan Besar dalam Pembangunan Sukabumi ke Depan

Tak hanya itu, aspek lingkungan menjadi fokus utama lainnya. Ponpes Al-Fath mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis ekonomi sirkular, di mana limbah yang dihasilkan diproses kembali agar memiliki nilai guna.

Konsep ini dijalankan secara terintegrasi, mulai dari pemanfaatan sampah organik dapur menjadi kompos hingga pupuk cair yang dapat digunakan kembali untuk kebutuhan pertanian pesantren.

Menurut narasumber BRIN lainnya, Sri Wahyono, pendekatan tersebut merupakan solusi konkret di tengah meningkatnya persoalan sampah dan terbatasnya kapasitas tempat pembuangan akhir di berbagai daerah.

Lebih jauh, KH Fajar menegaskan bahwa pesantren yang dipimpinnya tengah diarahkan menjadi kawasan mandiri yang mampu memenuhi kebutuhan secara internal, mulai dari pangan hingga energi pendukung kehidupan sehari-hari.

Dengan dukungan riset dan keterlibatan para ahli, Ponpes Al-Fath diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan kawasan berbasis komunitas yang efisien, berkelanjutan, dan minim limbah.

“Pesantren bukan hanya tempat pendidikan, tetapi juga ruang hidup yang bisa menjadi model kemandirian dan keberlanjutan,” tegasnya.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *