DLH Kota Sukabumi Apresiasi Workshop Ekraf dan MoU BRIN di Ponpes Al-Fath, Soroti Krisis Sampah

Wartawan Usep Mulyana

Pelitasukabumi.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi mengapresiasi kegiatan Workshop dan Pameran Ekonomi Kreatif yang dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Ponpes Al-Fath, Senin (27/4/2026).

Kegiatan tersebut dinilai menjadi langkah konkret dalam mendorong inovasi sekaligus solusi berbasis riset terhadap berbagai persoalan lingkungan.

Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (P4LH) DLH Kota Sukabumi, May Widyastutie, menegaskan bahwa persoalan sampah kini telah menjadi isu krusial, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional.

Ia menyebut kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kota Sukabumi sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.

“TPA kita sudah overload. Kalaupun luas TPA akan ditambah itu sudah tidak mungkin, apalagi luas Kota Sukabumi hanya 48,33 kilometer persegi,” ujarnya saat membuka workshop.

Menurutnya, penambahan lahan TPA bukan solusi ideal karena berpotensi menimbulkan dampak sosial di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis teknologi dalam pengelolaan sampah, salah satunya melalui konsep Waste-to-Energy (WtE) yang mampu mengubah limbah menjadi energi bermanfaat seperti listrik, panas, maupun bahan bakar.

Baca Juga :  Wamen ATR/Waka BPN Minta Pemprov Kalteng Aktif Selesaikan Masalah Pertanahan Lewat GTRA

Dalam upaya pengendalian sampah, Pemerintah Kota Sukabumi juga telah menjalin kerja sama dengan PT SCG Semen Jawa dalam pengolahan sampah organik menggunakan sistem Refuse Derived Fuel (RDF).

Selain itu, kerja sama juga dilakukan dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk mendukung pemanfaatan energi dari sampah.

Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Sukabumi tengah menyiapkan proyek percontohan pembangunan fasilitas pengolahan sampah RDF yang terintegrasi dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Inisiatif ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah di perkotaan.
May menegaskan, penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama, dimulai dari kesadaran individu dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga. DLH Kota Sukabumi, lanjutnya, terus menggencarkan sosialisasi pemilahan sampah.

Ia pun mengapresiasi langkah Ponpes Al-Fath yang telah menerapkan konsep ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah sebagai bagian dari edukasi dan praktik nyata di lingkungan pesantren.

“Kegiatan ini menjadi langkah awal yang baik. Persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama, dan harus dimulai dari diri kita masing-masing,” pungkasnya.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *