Wartawan Usep Mulyana
Pelitasukabumi.id. Persoalan sampah menjadi salah satu perhatian serius dalam rangkaian safari keliling Tim Penggerak PKK yang menyasar 33 kelurahan di Kota Sukabumi.
Edukasi pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga terus didorong sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sehat sekaligus mendukung pencegahan stunting.
Lurah Warudoyong, Nuke Nurulaini mengatakan, persoalan sampah tidak cukup hanya diselesaikan melalui imbauan.
Masyarakat perlu didorong untuk mengubah kebiasaan, terutama dalam memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.
Menurut Nuke, pengelolaan lingkungan yang bersih memiliki keterkaitan dengan upaya pencegahan stunting.
Karena itu, kader PKK dan Posyandu dinilai memiliki peran penting untuk menyampaikan edukasi tersebut secara langsung kepada masyarakat.
“Pencegahan stunting itu ada yang secara langsung dan tidak langsung. Salah satunya melalui sosialisasi kepada kader dan PKK bagaimana menjaga lingkungan supaya tidak kotor dan bagaimana warga bisa mengelola sampah,” ujar Nuke, Senin (31/8/2026).
Ia menjelaskan, masyarakat mulai diarahkan untuk memilah sampah menjadi sampah organik, anorganik, dan residu.
Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik dapat dikumpulkan dan dijual melalui bank sampah.
Langkah tersebut, kata Nuke, bukan hanya berdampak terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.
“Yang organik bisa kita jadikan pupuk, sementara yang anorganik seperti botol bisa dijual ke bank sampah unit. Harapannya, walaupun sedikit, ada tabungan dan penghasilan tambahan dari pengelolaan sampah,” jelasnya.
Di Kelurahan Warudoyong, pengembangan bank sampah mulai dilakukan secara bertahap. Bank Sampah Unit di RW 1 disebut sudah aktif dan ke depan diharapkan dapat berkembang hingga dimiliki setiap RW.
Nuke menegaskan, upaya tersebut harus dimulai dari lingkungan sendiri. Aparatur kelurahan juga mulai menerapkan pemilahan sampah, termasuk memisahkan sisa makanan dan sampah daun yang cukup banyak di lingkungan Warudoyong.
Selain itu, pembuatan biopori juga mulai dilakukan sebagai bagian dari upaya pengelolaan lingkungan.
“Kita juga belajar dari diri sendiri. Sebelum mengajak warga, kita belajar bagaimana memilah dan mengelola sampah,” katanya.
Persoalan sampah menjadi semakin penting karena kondisi TPA Cikundul yang disebut sudah mengalami overload.
Karena itu, menurut Nuke, masyarakat harus bergerak mengurangi sampah dari sumbernya, bukan sekadar membuang sampah ke tempat pembuangan akhir.
Namun, upaya tersebut tidak selalu mudah. Pihak kelurahan masih menghadapi persoalan adanya orang dari luar wilayah yang diduga membuang sampah sembarangan, terutama pada malam hari.
Nuke mengakui pengawasan terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan dari luar wilayah cukup sulit dilakukan. Untuk sementara, pihaknya lebih memfokuskan gerakan kebersihan kepada warga Kelurahan Warudoyong.
“Kita fokus kepada warga kelurahan sendiri, bagaimana supaya mereka konsen terhadap persoalan sampah ini,” ungkapnya.
Sementara kegiatan Jumat Bersih di Kelurahan Warudoyong masih tetap berjalan. Pelaksanaannya dilakukan di masing-masing RW dan tidak selalu harus bersamaan.
Bahkan, kegiatan kerja bakti dapat dilaksanakan pada hari lain sesuai kebutuhan. Salah satunya dilakukan warga RW 5 saat sampah mulai menumpuk di saluran air.
Dalam kegiatan tersebut, warga bersama aparatur kelurahan turut menggandeng DLH dan BPBD untuk membersihkan sampah dari saluran.
Nuke berharap program pemberdayaan kader PKK dan Posyandu mampu melahirkan perubahan pola pikir masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dipandang bukan semata-mata sebagai kewajiban menjaga kebersihan, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan dan membuka peluang ekonomi keluarga.
“Harapannya mindset-nya berubah. Pengelolaan sampah ini menunjang kehidupan kita sehari-hari, untuk kesehatan dan perekonomian juga,” katanya.
Ia menambahkan, kader PKK dan Posyandu memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Mereka diharapkan menjadi penggerak yang mampu mengajak warga di lingkungan masing-masing untuk mulai memilah dan mengelola sampah secara berkelanjutan.
“Karena kader PKK dan Posyandu lebih langsung berinteraksi dengan masyarakat, mereka bisa langsung mengajak tetangga dan warga untuk bersama-sama mengelola sampah,” pungkas Nuke.

