DLH Sukabumi Siapkan Strategi Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir

Wartawan Usep Mulyana

Pelitasukabumi.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi terus memperkuat strategi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Langkah tersebut dilakukan mulai dari mendorong keterlibatan masyarakat dalam memilah sampah, mengolah sampah organik, mengoptimalkan TPS 3R, hingga membenahi tata kelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Yudi Sutriana, mengatakan persoalan sampah tidak dapat hanya diselesaikan pada tahap pengangkutan dan pembuangan.

Pengurangan sampah dari sumbernya menjadi salah satu kunci untuk menekan beban pengelolaan di hilir.

Menurutnya, DLH terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari komunitas, kelurahan hingga kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui Dana Kelurahan (Dakel).

“Pengelolaan sampah itu harus dimulai dari hulu. Masyarakat kita dorong untuk melakukan pemilahan sejak dari rumah, termasuk di sektor usaha seperti hotel, restoran dan kafe,” ujar Yudi di ruang kerjanya, Senin (24/8/2026).

Salah satu perhatian utama DLH adalah sampah organik, terutama sisa makanan. Jenis sampah tersebut disebut masih mendominasi komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan persentase sekitar 70 hingga 80 persen.

Karena itu, DLH mendorong pengolahan sampah organik melalui berbagai metode, salah satunya dengan membagikan ember biopori kepada masyarakat di sejumlah kelurahan, termasuk Kelurahan Cikundul.

Di sisi lain, pengelolaan sampah skala menengah juga mulai diperkuat melalui optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

Yudi mengungkapkan, sejumlah fasilitas TPS 3R yang sebelumnya belum optimal akan kembali diaktifkan dan direhabilitasi. Salah satunya TPS 3R Cisarua yang dirancang memiliki fasilitas pengolahan sampah, termasuk mesin Refuse-Derived Fuel (RDF) serta rumah maggot.

“TPS 3R ini kita optimalkan agar sampah tidak semuanya berakhir di TPA. Ada yang diolah menjadi RDF, kemudian bisa mendukung kebutuhan bahan bakar industri. Rumah maggot juga menjadi bagian dari upaya ekonomi sirkular,” jelasnya.

Selain itu, DLH juga tengah mengajukan bantuan berupa mesin insinerator ramah lingkungan berkapasitas sekitar lima ton per hari kepada pemerintah provinsi.

Penjajakan teknologi pengolahan sampah lainnya juga dilakukan, termasuk teknologi insinerator yang tidak bergantung pada pasokan listrik konvensional.

Baca Juga :  Operasi Gabungan Pajak Kendaraan, Wali Kota Targetkan PAD Sukabumi Capai 100 Persen di Akhir Tahun

Sementara di sektor hilir, DLH melakukan pembenahan terhadap armada pengangkutan sampah. Kendaraan yang sudah mengalami kerusakan berat akan ditata kembali agar tidak terus membebani anggaran pemeliharaan maupun kewajiban operasional.

“Armada yang sudah rusak berat ada sekitar tujuh sampai delapan dump truck, termasuk kendaraan operasional lainnya. Kita inventarisasi untuk dilakukan penghapusan atau pelelangan sesuai ketentuan, sehingga anggaran tidak terus terbebani oleh kendaraan yang sudah tidak produktif,” ungkap Yudi.

Pembenahan juga diarahkan pada sistem pengelolaan TPA Cikundul. DLH berupaya memenuhi sejumlah sanksi administratif dengan melakukan perubahan metode pengelolaan dari open dumping menuju controlled landfill.

Perubahan tersebut dilakukan melalui pengurugan tanah secara berkala serta pembenahan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

DLH juga merencanakan pemasangan jaringan pipa untuk mengelola gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah.

Langkah itu dinilai penting untuk mengurangi risiko terjadinya kebakaran maupun ledakan akibat akumulasi gas metana di area TPA.

“TPA Cikundul harus kita benahi. Kita tidak ingin hanya memindahkan masalah dari masyarakat ke TPA. Sistemnya harus diperbaiki, termasuk pengelolaan air limbah dan gas metana,” tegasnya.

Untuk jangka panjang, DLH juga mulai mempersiapkan skema pengelolaan sampah melalui TPA Bersama yang direncanakan mulai diarahkan pada 2028. Skema tersebut mencakup pemanfaatan fasilitas Galuga dan Kayu Manis dengan konsep tanpa tipping fee.

Menurut Yudi, rencana tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap kebijakan pemerintah pusat dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik atau (PSEL).

Dengan berbagai strategi tersebut, DLH berharap pengelolaan sampah di Kota Sukabumi tidak lagi bertumpu pada pola kumpul, angkut dan buang. Pengurangan sampah dari sumber, pemanfaatan kembali, pengolahan, hingga pembenahan TPA menjadi rangkaian yang harus berjalan secara terpadu.

“Target kita bukan sekadar mengangkut sampah. Yang paling penting adalah bagaimana sampah bisa dikurangi dari sumbernya, diolah dan memiliki nilai manfaat sebelum akhirnya masuk ke tempat pembuangan akhir,” pungkas Yudi.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *