Al-Fath Bangun Ekosistem Pelestarian Budaya, Kementerian Kebudayaan Beri Apresiasi

Wartawan Usep Mulyana

Pelitasukabumi.id – Pondok Pesantren Modern Al-Fath terus memperkuat kiprahnya sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya Nusantara melalui peresmian Museum Keramik serta gedung baru Museum Prabu Siliwangi.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Restu Gunawan, M.Hum.

Dia menilai pengelolaan museum di Al-Fath telah berkembang menjadi model pelestarian budaya yang komprehensif.

Menurut Dr. Restu Gunawan, keberadaan museum di lingkungan pesantren tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah.

Tetapi untuk menjalankan fungsi perlindungan terhadap cagar budaya sekaligus menjaga warisan budaya takbenda.

Upaya tersebut dinilai penting agar nilai sejarah yang terkandung dalam setiap koleksi tetap terpelihara dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Seluruh koleksi yang tersimpan juga diperkuat melalui penelitian ilmiah bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” ujarnya.

Rangkaian proses yang dijalankan lanjut dia meliputi identifikasi, pengelompokan berdasarkan periode sejarah hingga penyusunan katalog, sehingga setiap artefak memiliki data akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih jauh, Museum Prabu Siliwangi kini diarahkan menjadi ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat.

Selain menyajikan benda-benda bersejarah, museum juga menghadirkan pengalaman edukatif melalui konsep living museum, di mana pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan senjata tradisional dan teknologi logam yang diwariskan para leluhur.

Dia menambahkan, pelestarian budaya akan lebih bermakna apabila mampu melibatkan generasi muda.

Di Al-Fath, regenerasi itu telah berjalan dengan hadirnya para empu muda yang meneruskan keterampilan tradisional, sehingga budaya tidak berhenti sebagai koleksi, tetapi tetap hidup dalam praktik keseharian.

Baca Juga :  HUT ke-112 Jadi Alarm Perubahan, DPRD Kota Sukabumi Tekankan Harmoni dan Kolaborasi

Pimpinan Ponpes Modern Al-Fath KH. Fajar Laksana mengatakan, peresmian gedung baru museum merupakan bagian dari pengembangan fasilitas setelah hasil penelitian BRIN menunjukkan besarnya nilai historis koleksi yang dimiliki.

“Koleksi keramik dipisahkan dalam museum tersendiri agar penataan dan penyajiannya lebih maksimal,” ungkapnya.

Masih kata dia, Museum Keramik saat ini telah memiliki ratusan koleksi yang berhasil diidentifikasi berasal dari berbagai dinasti di Tiongkok hingga kawasan Timur Tengah, dengan usia yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 sampai abad ke-10 Masehi.

Temuan tersebut memperlihatkan jejak hubungan perdagangan Nusantara dengan dunia internasional pada masa lampau.

KH. Fajar menambahkan, proses penelitian belum berhenti. Dari sekitar seribu koleksi keramik yang dimiliki museum, masih terdapat sekitar 500 koleksi yang akan dikaji lebih lanjut oleh BRIN.

Sementara hasil identifikasi yang telah selesai kini telah dibukukan dalam Katalog Keramik sebagai referensi ilmiah bagi peneliti maupun masyarakat.

Selain keramik, Museum Prabu Siliwangi juga menyimpan berbagai pusaka seperti keris, kujang, golok, hingga temuan batu megalitik yang telah diteliti bersama BRIN.

Koleksi tersebut memperkaya khazanah budaya yang dimiliki museum sekaligus memperkuat nilai edukasi bagi para pengunjung.

Melalui pengembangan museum dan dukungan pemerintah, Al-Fath berharap pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada upaya penyelamatan benda bersejarah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan, penelitian, serta penguatan identitas bangsa yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *