Bangun Ketahanan Keluarga, DP2KBP3A Kota Sukabumi Optimalkan Program Bangga Kencana

Wartawan Usep Mulyana

Pelitasukabumi.id Pembangunan keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam menyiapkan generasi berkualitas dan memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kota Sukabumi mengoptimalkan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).

Cakupan kegiatan meliputi pelayanan kontrasepsi hingga penguatan pengasuhan anak dan peningkatan kualitas hidup lansia.

Kepala DP2KBP3A Kota Sukabumi, Yadi Mulyadi, S.STP., M.Si., memaparkan kebijakan dan langkah pelaksanaan program tersebut dalam kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana dengan Mitra Kerja.

Sebagai perangkat daerah yang menangani urusan pengendalian penduduk dan keluarga berencana serta pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, DP2KBP3A memiliki peran dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Langkah ini sekaligus menunjang visi Kota Sukabumi 2025–2030, yakni Mewujudkan Masyarakat Kota Sukabumi yang Inovatif, Mandiri, Agamis dan Nasionalis (IMAN), di bawah kepemimpinan Wali Kota H. Ayep Zaki, S.E., M.M., dan Wakil Wali Kota Bobby Maulana.

“Dalam perspektif pembangunan nasional, Program Bangga Kencana berkaitan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang menargetkan sumber daya manusia unggul, berbudaya, dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi,” kata Yadi, Senin (26/10/2026).

Visi tersebut ungkapnya mencakup ekonomi maju dan berkelanjutan, pembangunan yang merata dan inklusif, serta negara demokratis, kuat, dan bersih.

Arah kebijakan nasional turut meliputi delapan prioritas, yaitu kesehatan berkualitas hingga pelosok, pendidikan bermutu, ketahanan pangan melalui Makan Bergizi Gratis dan kemandirian pangan.

Disamping itu pemerintah juga mengembangkan ketahanan energi berkelanjutan, penguatan koperasi dan UMKM, pertahanan semesta (total defense), serta investasi global melalui percepatan perdagangan mancanegara.

Peluang bonus demografi pada 2025–2045 menjadi perhatian tersendiri karena penduduk berusia 15–64 tahun diharapkan mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan sasaran 70–95 persen.

Potensi tersebut lanjut dia perlu diimbangi peningkatan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan keluarga.

Karena itu, agenda DP2KBP3A juga diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk, mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah, menekan angka kematian ibu dan bayi, meningkatkan prevalensi penggunaan kontrasepsi modern atau mCPR, mengurangi kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi (unmet need), serta mempercepat penanganan stunting.

“Pembangunan keluarga juga mencakup pencegahan pernikahan dini, peningkatan kesehatan ibu dan anak, penguatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan, serta peningkatan kualitas hidup lanjut usia,” tuturnya.

Pendekatan tersebut, menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam membentuk generasi yang sehat dan produktif. Pelaksanaannya membutuhkan kesinambungan edukasi dan pelayanan sesuai tahapan kehidupan, mulai dari remaja, pasangan yang mempersiapkan pernikahan, keluarga dengan anak, hingga kelompok lansia.

Pada bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR), DP2KBP3A menjalankan delapan strategi. Dua di antaranya berfokus pada ketersediaan alat dan obat kontrasepsi serta perluasan pelayanan KB di fasilitas kesehatan.

Pengelolaan alat dan obat kontrasepsi dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pencatatan menggunakan aplikasi New Siga.

Sementara itu, penguatan pelayanan didorong melalui peningkatan jumlah rumah sakit, klinik, puskesmas, dan Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) yang terdaftar, termasuk melalui kemitraan dengan Asosiasi Klinik (Asklin).

Peningkatan kualitas pelayanan juga menyasar TPMB melalui konsep “TPMB Keren”, yaitu Kompeten, Energik, Responsif, Empati, dan Nyaman.

Selain itu, penguatan Institusi Masyarakat Perkotaan (IMP) dilakukan dengan melibatkan kader IMP, Pos KB, Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), dan Sub-PPKBD di tingkat kelurahan maupun kecamatan.

Peran unsur masyarakat tersebut diperlukan untuk membantu penyebaran informasi, memperluas partisipasi keluarga, dan mendekatkan pelayanan program KB kepada masyarakat.

Strategi berikutnya adalah mengembangkan Kampung Keluarga Berkualitas atau Kampung KB dengan pendekatan siklus hidup yang menekankan penguatan institusi keluarga dan penurunan stunting.

Baca Juga :  DMI Kota Sukabumi Angkat Bicara Soal Wakaf Uang

Penyebaran informasi turut diperluas melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) menggunakan media elektronik, termasuk Elmitra 95 FM dan Swara Perintis 93,1 FM.

Pada saat bersamaan, kompetensi tenaga kesehatan ditingkatkan melalui fasilitasi pelatihan klinis pelayanan kontrasepsi bagi dokter dan bidan dengan bekerja sama dengan UPELKES Provinsi Jawa Barat.

Penguatan kesehatan reproduksi menjadi strategi kedelapan yang mencakup edukasi bagi remaja, pemeriksaan kesehatan pranikah untuk calon pengantin (catin), serta pelayanan bagi lansia produktif.

Edukasi sejak dini diperlukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, sedangkan pemeriksaan calon pengantin menjadi bagian dari persiapan membangun keluarga sehat. Pelayanan bagi lansia juga diarahkan agar kelompok tersebut tetap memperoleh dukungan sesuai kebutuhan dan tahap kehidupannya.

Selain delapan strategi KBKR, terdapat lima program Quick Win Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.

Program pertama, PENTAS DAY CARE, berfokus pada penyediaan tempat penitipan anak bagi pegawai di instansi pemerintah dan perusahaan swasta untuk mendukung pengasuhan sekaligus pencegahan stunting.

Program kedua, GENTING (Gerakan Sejuta Orang Tua Asuh Cegah Stunting), memberikan dukungan berupa bantuan gizi dan kesehatan kepada keluarga yang berisiko mengalami stunting.

Program ketiga yakni SERBU CATIN (Sertifikasi Calon Pengantin), menyediakan konseling, pemeriksaan kesehatan gratis, serta dukungan peningkatan gizi melalui tablet tambah darah bagi calon pengantin.

Program ini menekankan pentingnya kesiapan kesehatan sebelum memasuki kehidupan pernikahan dan merencanakan kehamilan. Melalui pembekalan tersebut, pasangan diharapkan memiliki pemahaman lebih baik mengenai kesehatan reproduksi dan kebutuhan gizi dalam membangun keluarga.

Selanjutnya program keempat, SIAP BAHAGIA, diarahkan pada pengembangan SuperApps Pelayanan Keluarga Sejahtera berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan sasaran generasi Z dan milenial.

Pemanfaatan teknologi digital ini menjadi bagian dari pendekatan pelayanan keluarga yang menyesuaikan perkembangan teknologi.

Berikutnya program kelima, Lansia Prima, berorientasi pada terwujudnya lansia yang sehat, produktif, mandiri, dan bahagia melalui edukasi, pemeriksaan kesehatan, serta layanan perawatan di rumah (home care).

Kelima program tersebut memiliki sasaran yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membangun ketahanan keluarga.

Di mana PENTAS DAY CARE memperhatikan dukungan pengasuhan anak, GENTING berfokus pada keluarga berisiko stunting, SERBU CATIN menyiapkan calon pengantin, SIAP BAHAGIA memanfaatkan teknologi untuk pelayanan keluarga, sedangkan Lansia Prima meningkatkan perhatian terhadap kelompok lanjut usia.

Pelaksanaannya membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, dan mitra kerja agar program dapat menjangkau kelompok sasaran secara tepat.

Secara keseluruhan, materi kebijakan Bangga Kencana menempatkan pelayanan kesehatan reproduksi, pengendalian penduduk, penguatan institusi keluarga, pencegahan stunting, dan pemberdayaan masyarakat sebagai agenda yang saling terhubung.

Ketersediaan kontrasepsi, peningkatan kompetensi dokter dan bidan, peran kader di tingkat wilayah, pemanfaatan radio lokal, serta pengembangan layanan berbasis teknologi menjadi bagian dari pendekatan yang disiapkan untuk memperluas jangkauan program.

DP2KBP3A Kota Sukabumi mengemban urusan pengendalian penduduk dan keluarga berencana serta pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi lintas sektor dan keterlibatan keluarga menjadi unsur penting untuk mendukung berbagai agenda, termasuk penurunan stunting, pencegahan pernikahan dini, peningkatan kesehatan ibu dan anak, serta pemeliharaan kesehatan lansia.

Melalui optimalisasi Program Bangga Kencana, pembangunan keluarga di Kota Sukabumi diarahkan tidak hanya pada perencanaan jumlah anak, tetapi juga pada kesiapan berkeluarga, kualitas pengasuhan, kesehatan reproduksi, dan kesejahteraan setiap kelompok usia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap visi Kota Sukabumi 2025–2030 sekaligus persiapan menuju Indonesia Emas 2045, dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, keluarga yang tangguh, serta masyarakat yang sehat, mandiri, dan produktif.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *