Wartawan Iyus Firdaus
Pelitasukabumi.id – Pemerintah Kota Sukabumi terus memperkuat budaya inovasi di lingkungan perangkat daerah. Hingga proses penginputan Indeks Inovasi Daerah (IGA) 2026, tercatat sebanyak 1.157 inovasi dari berbagai perangkat daerah telah masuk dalam sistem.
Kepala Bidang (Kabid) Penelitian dan Pengembangan, Wahyu Retnaningtyas Utami, S.H., M.H., mengatakan, jumlah tersebut menjadi gambaran meningkatnya aktivitas inovasi di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi.
Namun demikian kata dia, tidak seluruh inovasi yang telah diinput otomatis dapat dikirim untuk mengikuti penilaian IGA karena masih harus memenuhi sejumlah persyaratan dan tahapan verifikasi.
Proses IGA 2026 ujarnya, memiliki pengalaman berbeda dibandingkan tahun sebelumnya karena sejak awal tahun pihaknya mengikuti seluruh tahapan, mulai dari proses penginputan hingga evaluasi.
“Kalau tahun kemarin untuk penginputannya sudah selesai, jadi tinggal menunggu laporan dan hasil. Tahun sekarang benar-benar dari awal, sehingga banyak hal yang bisa dievaluasi dan ternyata masih banyak yang harus diperbaiki,” ujar Ira, Senin (21/9/2026).
Ia menjelaskan, keterlibatan sejak awal membuat proses evaluasi menjadi lebih komprehensif. Berbagai kekurangan yang ditemukan saat proses berjalan dapat menjadi bahan perbaikan agar pengelolaan inovasi pada tahun berikutnya semakin matang.
Menariknya, menurut Ira, meningkatnya jumlah inovasi tersebut tidak terlepas dari perhatian pimpinan daerah terhadap inovasi.
Komitmen tersebut salah satunya terlihat melalui penerapan Key Performance Indicator (KPI) yang secara rutin dilaporkan oleh seluruh perangkat daerah.
“Dalam KPI tersebut, inovasi menjadi salah satu aspek yang ikut dilaporkan setiap bulan,” tuturnya.
Meskipun belum terdapat aturan khusus dalam bentuk keputusan wali kota atau peraturan wali kota yang mewajibkan setiap perangkat daerah menciptakan minimal satu inovasi setiap bulan.
Mekanisme KPI dinilai telah mendorong perangkat daerah untuk terus berkompetisi melahirkan terobosan.
“Dengan KPI itu semua perangkat daerah memang terdorong, berlomba-lomba dan harus memperhatikan inovasi karena Pak Wali sangat konsen dengan inovasi,” katanya.
Dorongan tersebut kemudian terlihat dalam proses penginputan IGA 2026. Dari berbagai perangkat daerah, tercatat 1.157 inovasi yang telah dimasukkan.
Namun, Ira menegaskan angka tersebut belum berarti seluruhnya langsung dikirim untuk penilaian IGA. Salah satu pertimbangannya adalah aspek keberlanjutan implementasi inovasi.
“Kalau IGA itu yang sudah diimplementasikan minimal satu tahun, bagusnya dua tahun. Karena itu kemarin kita arahkan diinput dulu. Nanti kalau ada indikator-indikator baru, tinggal dilengkapi sehingga tahun depan bisa dikirim,” jelasnya.
Dari sisi sektor, inovasi bidang kesehatan masih menjadi salah satu penyumbang terbesar.
Ira menyebut inovasi dari puskesmas cukup menonjol karena lingkungan pelayanan kesehatan memiliki tuntutan akreditasi yang turut mendorong lahirnya berbagai pembaruan dalam pelayanan.
Menurutnya, kepala puskesmas dan jajaran di sektor kesehatan menunjukkan tingkat kompetisi yang tinggi dalam mengembangkan inovasi pelayanan kepada masyarakat.
Meski demikian, perkembangan inovasi tidak hanya datang dari sektor kesehatan. Ira melihat perangkat daerah di wilayah, khususnya kelurahan dan kecamatan, mulai menunjukkan geliat yang cukup kuat.
Ia menyebut berbagai inovasi yang dilakukan aparatur kewilayahan juga mulai terlihat dan dilaporkan melalui sistem IGA, meskipun sebagian masih berada pada tahap penginputan dan belum dapat dikirim untuk penilaian.
“Teman-teman di wilayah juga tidak kalah. Kalau kita lihat di media sosial, banyak lurah yang baru punya inovasi-inovasi. Banyak yang sudah dilaporkan dan diinput sementara di IGA, tetapi belum bisa dilaporkan,” ujarnya.
Menariknya, sebagian inovasi dari wilayah tersebut juga diarahkan untuk mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hal itu sejalan dengan perhatian Pemerintah Kota Sukabumi terhadap optimalisasi PAD.
Ira mengatakan cukup banyak inovasi dari kecamatan dan kelurahan yang memiliki orientasi pada kemudahan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian PAD.
Namun, seluruh inovasi tersebut masih perlu dilihat dan dikaji satu per satu untuk mengetahui bentuk serta dampaknya secara lebih terperinci.
“Banyak, terutama teman-teman wilayah. Mereka memang sedang digenjot untuk PAD. Banyak inovasi baru yang arahnya ke sana, salah satunya bagaimana mempermudah masyarakat,” tuturnya.
Saat ini, proses IGA 2026 masih belum memasuki tahap penentuan inovasi yang akan menjadi unggulan Kota Sukabumi. Ira menjelaskan, pemerintah daerah masih menunggu proses verifikasi dari Kementerian Dalam Negeri.
Tahapan berikutnya akan sangat bergantung pada tema besar yang nantinya ditentukan oleh Kemendagri untuk penilaian atau presentasi inovasi daerah. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, tema tersebut baru diketahui sekitar Oktober-November.
Kondisi itu membuat tim pengelola inovasi daerah belum dapat langsung menentukan inovasi mana yang akan disaring dan dikurasi sebagai kandidat unggulan.
“Kita belum tahu kira-kira tema besar yang akan diambil. Nanti setelah ada dari Kemendagri, baru kita tentukan dan disaring,” kata Ira.
Ia menambahkan, kondisi tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi tim Litbang. Sebab, inovasi yang saat ini terlihat kuat belum tentu sesuai dengan tema yang nantinya ditetapkan Kemendagri.
Karena itu, penginputan sebanyak mungkin inovasi dinilai penting sebagai langkah awal untuk memastikan pemerintah daerah memiliki banyak pilihan ketika tema penilaian sudah ditetapkan.
Pada penilaian sebelumnya, Kota Sukabumi sempat mengunggulkan inovasi Spada Santun dan Smart-K. Namun, pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak sepenuhnya bebas menentukan tema unggulan karena harus menyesuaikan dengan tema besar yang ditetapkan Kemendagri.
Ira berharap tema yang nantinya ditetapkan dapat sejalan dengan inovasi yang selama ini telah dikembangkan oleh perangkat daerah.
Dengan demikian, berbagai inovasi yang telah dihimpun tidak berhenti sebagai data dalam sistem, tetapi dapat benar-benar menjadi bagian dari penguatan pelayanan dan tata kelola pemerintahan.
Dengan masih berlangsungnya proses verifikasi, Pemkot Sukabumi kini memiliki pekerjaan lanjutan yaitu memastikan inovasi yang telah terdata benar-benar memiliki implementasi, dokumentasi, keberlanjutan, serta dampak yang jelas bagi masyarakat.
Jumlah 1.157 inovasi akhirnya bukan menjadi garis akhir, melainkan modal awal untuk menentukan inovasi mana yang paling relevan dengan tema penilaian sekaligus layak dibawa dalam tahapan berikutnya.

