Perang AMIS VS Iran; Umat Islam Wajib Menentang Penjajahan

Oleh: Lathief Abdallah.(Pemerhati Sosial Dan Keagamaan)

Pelitasukabumi.id – Agresi Amerika yang bersekutu dengan Zionis Israel ke Nagara Iran sudah berlangsung sejak 28 Pebruari 2026 saat kaum muslimin dunia melaksanakan Puasa Ramadan di sepuluh hari pertama.

Amerika dan Israhel (AMIS) menyerang Iran dengan menargetkan sejumlah fasilitas: militer, pemerintahan dan nuklir. Serangan ini menandai awal perang terbuka. Iran melakukan serangan balasan dengan rudal dan drone. Serangan Iran menyasar berbagai lokasi strategis Israel, juga pangkalan militer di berbagai negara Teluk yang menjadi sekutu AS. Iran bahkan melakukan penutupan Selat Hormuz untuk kapal-kapal AS dan sekutunya. Selat Hormuz merupakan jalur minyak dunia saat ini.

Di luar dugaan, persenjataan AS yang dikatakan canggih dan mahal justru dapat ditundukkan oleh Iran. AS sudah menghabiskan US$ 12 miliar atau setara Rp 203,8 triliun. Trump mengajukan tambahan anggaran perang. AS juga ditinggalkan oleh NATO/Eropa yang menolak membantu. Sinyal keretakan hubungan AS-Uni Eropa pun semakin menguat.

Para nalisis menyebutkan tujuan agresi AMIS ke Iran adalah; pergantian Rezim, penyetopan program nuklir, pengambilalihan uranium, penghentian produksi rudal balistik, penguasaan minyak, tentu melenyapkan penghalang program pembentukan Isarel raya. Semuanya tidak terwujud. Bahkan dikatakan gagal total, sebaliknya mereka mengalami kerugian luar biasa.

Realitanya dalam perang AMIS VS Iran ini, para penguasa negara muslim arab (teluk) berpihak kepada AMIS. Selama ini mereka adalah sekutu AS dan normalisasi denga Israel.

Lalu, umat Islam harus berpihak ke mana dan mendukung ke siapa? Tentu umat Islam sedunia wajib menentang setiap penjajahan dan wajib membela negeri-negeri Islam dari segala penjajahan.

Islam melarang keras keberpihakan kepada musuh-musuhnya, menjadikan mereka sebagai pelindung, pemimpin, sekutu, terlebih saat musuh memerangi negeri muslim.

Dalam tafsir Annur, Jilid 3/585, Al Zuhaily menjelaskan bahwa Abdullah bin Ubay Bin Salul berpihak kepada Bani Qanaiqa yang saat memerangi Rasulullullah. Abdullah bin Ubay yang satatusnya sebagai tokoh munafik ( muslim lahiriyahnya namun hatinya membenci Islam), ia beralasan merasa khawatir jika Yahudi mengalahkan Rasulullah kedudukan akan terancam. Maka turunlah ayat berikut,

Baca Juga :  Cinta Nabi Hanya Di Bulan Maulud ?

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
[QS. Al-Ma’idah (5): Ayat 51].

Kaum muslimin wajib menjaga persaudaraan, persatuan, saling membantu bahu membahu dan memperbaiki hubungan (ishlah). Jangan sampai dengan sesama muslim terus memelihara permusuhan dan pertentangan, sementara dengan musuh agresor, Imperealis, penjahat kemanusiaan malah berbestian, bermesraan.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” [Al Hujurat (49) ayat :10]

Muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara bagai satu tubuh seperti satu bangunan, tidak boleh melakukan aniaya kepada muslim lainya, menyerahkan saudaranya kepada musuhnya. Mempersilahkan penjajah melalui negerinya untuk menyerang negeri muslim lainya seperti yang terjadi terhadap Iran. Menutup gerbang menuju Gaza sehingga bantuan tidak bisa sampai ke masyarakat Gaza yang tertindas.

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya (kemusuhnya)”
[HR. Bukhari Muslim]

Ada pertanyaan lainya, bukankah Iran Itu Syiah, dan Syiah itu bukan Islam? Untuk menjawab soal diatas cukuplah dua pernyataan dari ulama dunia; Grand Syekh Al Azhar Prof Dr. Ahmad Muhammad Ath-Thayyeb, beliau mengatakan bahwa umat Islam yang berakidah Ahlussunah bersaudara dengan umat Islam dari golongan Syiah. Syaikh Dr. Muhammad Al-Isa
(Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia & Anggota Hai’ah Kibar Al-Ulama Arab Saudi) menegaskan bahwa hakikatnya tidak ada konflik atau benturan antara Sunni dan Syiah, keduanya adalah saudara, satu Islam. Syiah dibolehkan masuk ke Makkah dan beribadah haji dan umroh sebagaimana muslim Sunni.

Seperti pula dikatakan TGB Muhammad Zainul Majdi menyatakan dukungan dan solidaritas terhadap Iran dalam menghadapi agresi, menegaskan pembelaan tersebut berlandaskan nilai kemanusiaan, hukum internasional, dan ajaran agama. Ia menilai perjuangan Iran mendukung Palestina penting bagi dunia Islam.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *