Wartawan Usep Mulyana
Pelitasukabumi.id – Upaya mengangkat naskah kuno Patambaan Siliwangi tidak hanya berhenti pada kajian ilmiah, tetapi mulai diarahkan menjadi kekuatan budaya dan ekonomi daerah. Pimpinan Ponpes Al-Fath, KH. M. Fajar Laksana, menegaskan pentingnya langkah konkret untuk mendorong pengakuan resmi sekaligus pemanfaatan luas bagi masyarakat.
Dia mengatakan, naskah tersebut menyimpan pengetahuan lintas bidang yang tidak hanya terbatas pada pengobatan tradisional, tetapi juga mencerminkan cara pandang masyarakat masa lalu terhadap kehidupan, kesehatan, hingga waktu dan perhitungan hari.

“Ini bukan sekadar naskah pengobatan. Di dalamnya ada sistem pengetahuan yang utuh, mulai dari ramuan herbal, cara pengolahan, sampai aspek kehidupan lainnya,” ujarnya.
KH Fajar menjelaskan, fokus utama yang saat ini dikaji adalah bagian Patambaan, yakni kumpulan pengetahuan tentang pengobatan berbasis tanaman herbal. Dari hasil identifikasi, terdapat puluhan jenis tumbuhan yang disebut memiliki khasiat tertentu.
Namun demikian, ia menekankan bahwa informasi tersebut masih bersifat empiris dan membutuhkan kajian lanjutan secara medis agar dapat dikembangkan lebih jauh dalam konteks modern.
“Ini menjadi pintu masuk. Kita punya data dari masa lalu, tinggal bagaimana diuji dan dikembangkan dengan pendekatan ilmiah sekarang,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa naskah yang diteliti merupakan bagian dari koleksi manuskrip yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi, yang sebelumnya telah diteliti bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dari total 29 naskah yang telah diidentifikasi sebagai manuskrip kuno, tema pengobatan tradisional dipilih karena dinilai memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan masyarakat saat ini, sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan.
KH Fajar menilai, hasil kajian ini harus segera ditindaklanjuti melalui proses legalisasi, baik sebagai warisan budaya tak benda maupun benda cagar budaya.
“Kalau sudah diakui secara resmi, maka kita punya dasar kuat untuk mengembangkan ini menjadi produk budaya yang bisa dipromosikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia melihat adanya peluang besar untuk mengintegrasikan Patambaan Siliwangi ke dalam konsep wisata edukasi dan budaya di Kota Sukabumi.
“Orang bisa datang tidak hanya untuk melihat naskah, tetapi juga belajar, meneliti, bahkan mencoba praktik pengobatan tradisionalnya. Ini yang akan menjadi daya tarik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan tersebut akan berdampak langsung terhadap sektor ekonomi, mulai dari jasa, perhotelan, hingga pelaku usaha kecil.
“Kalau kunjungan meningkat, maka perputaran ekonomi juga meningkat. Ini yang harus kita dorong bersama,” katanya.
Menariknya, KH Fajar juga mengungkap adanya keselarasan antara praktik pengobatan herbal yang ia pelajari secara turun-temurun dengan isi naskah yang kini telah diterjemahkan.
“Saya belajar dari keluarga, praktik langsung. Tapi setelah dibaca oleh ahli, ternyata ramuannya sama. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan itu memang diwariskan secara konsisten,” ungkapnya.
Sementara itu, peneliti filologi dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta, Ilham Nurwansah, menjelaskan bahwa naskah Patambaan merupakan dokumentasi pengetahuan yang ditulis berdasarkan pengalaman empiris masyarakat pada masa lampau.
Ia menyebut, naskah tersebut menggunakan aksara Jawa dengan bahasa Jawa dialek Cirebon yang dipengaruhi unsur Sunda, serta memiliki ketebalan ratusan halaman dengan isi yang cukup kompleks.
“Selain pengobatan, ada juga pembahasan lain seperti perhitungan hari, waktu, hingga unsur perbintangan. Ini menunjukkan luasnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat saat itu,” jelasnya.
Menurut Ilham, proses penerjemahan dan pengkajian naskah kuno membutuhkan ketelitian tinggi karena tidak hanya membaca teks, tetapi juga memahami konteks budaya dan bahasa yang digunakan.
Dengan kekayaan isi dan nilai historis yang dimiliki, Patambaan Siliwangi dinilai memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan, baik sebagai objek penelitian maupun sebagai bagian dari identitas budaya yang dapat diperkenalkan lebih luas ke tingkat nasional hingga internasional.

