Oleh : Ust. Lathief Abdallah.(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)
Sebelum peristiwa Isra’ Miraj, Nabi mengalami tekanan mental luar biasa dari orang-orang kafir, terutama pada saat dua pendukung dan pelindung beliau yaitu paman beliau, AbuThalib, dan istrinya, Sayidah Khadijah. Keduanya wafat di tahun yang sama, tahun ke 3 Sebelum Hijrah /619 Masehi. Disebut dalam sejarah sebagai ‘amul hazni atau tahun kesedihan. Abu Thalib, paman nabi selama ini menjadi pelindung beliau secara politik dan sosial. Sementara Sayidah Khadijah, istrinya selalu membackupnya secara psikologi dan ekonomi.
Setelah keduanya tiada, bulian, intimidasi dan persekusi kian mengancam. Nabi pernah mencari perlindungan ke suku thaif, namun yang didapat malah perundungan hingga kekekerasan. Kondisi demikian berat itu terungkap dalam pengaduanya kepada Allah SWT, ” Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku dihadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Rahmat dan karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu.” (Muhammad Husen Haikal, Hayatu Muhammad, halaman 187).
Melalui Isra’ Mi’raj Allah hendak menghibur nabi, healing, tashliyah, baik secara visual maupun secara spiritual. Healing adalah proses yang berupaya untuk meringankan dan memulihkan beban mental dari seorang individu.
Healing secara visual, Allah SWT bermaksud memperlihatkan kepada nabi Muhammad keagungan sebagian ciptaan-Nya di alam semesta. Dimana ada sekitar 200 miliar triliun bintang di alam semesta. Atau, dengan kata lain, 200 seksatriliun. Ada Matahari yang ukurannya 100x dari bumi, namun ada lagi bintang yang besarnya 1700x matahari. Jarak antar bintang ada yang hingga miliaran tahun cahaya. Di angaksa ada galaksi, pelanet berlapis lapis. Nabi daterbangkan hingga melewati tujuh lapis langit!
Hal ini diungkap langsung dalam al Qur’an, “Agar Kami dapat menunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.” (Q.S. Al-Isra’: 1)
“Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (Q.S. An-Najm: 13-18)
Dengan healing visual melalui Isra Mi’raj ini, jiwa nabi semakin kokoh pendiriannya, kuat keyakinanya bahwa Allah Maha besar, kekuasaan-Nya meliputi segala semesta. Maka Abu Jahal, Abu Lahab dan para pengikutnya yang menentang dan mengancam keras kepada Nabi adalah mahluk yang sangat kecil dan kerdil, hanya butiran debu di banding kebesaran alam semesta.
Healing secara spiritual adalah healing dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memperbanyak ruku dan sujud kepadaNya. Dari itu shalat 5 waktu diperintahkan saat nabi Isra dan mlMi’raj, “Lima waktu itu setara dengan lima puluh waktu. Tak akan lagi berubah keputusan-Ku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku kembali bertemu dengan Musa. Ia menyarankan, ‘Kembalilah menemui Rabbmu’. Kujawab, ‘Aku malu pada Rabbku’.” (HR Bukhari).
Al Quran menuntun bahwa shalat menjadi terapi atas jiwa yang tergoncang, hati yang gelisah, pikiran yang sumpek. “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (QS Albaqarah : 45)
Nabi sendiri secara manusiawi mengalami hal hal yang menyesakan dada. Shalat menjadi healing nabi secara spiritual “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengalami sesuatu masalah serius, beliau segera melakukan salat” (HR. Abu Daud, hasan).
Semakin banyak problem maka semakin sering bersimpuh sujud pada Dzat yang sedang mengujinya agar diberi ketabahan dan kemudahan menghadapinya.
Bila healing secara visual melihat keagungan cipataan Allah sehigga akan menambah keyakinan akan eksistensi-Nya. Sementara healing spiritual mendekatkan diri kepada Maha Pencipta, bersimpuh pasrah kepada-Nya