Oleh.Lathief Ab.(Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)
Pelitasukabumi.id – Awal bulan Rajab tahun ini 1445 H bertepatan dengan tahun baru, 1 Januari tahun 2025 M . Dalam Qur’an, Allah SWT memasukan bulan Rajab sebagai salah satu bulan haram alias bulan yang dimuliakan.
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah subhanahu wa ta’ala ada dua belas bulan dalam catatan Allah pada hari, ketika Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Itulah agama yang lurus. Maka, janganlah kalian menzalimi diri kalian di bulan-bulan itu.” (QS. at-Taubah: 36)
Empat bulan suci di dalam ayat ini dijelaskan oleh Nabi, “Sesungguhnya waktu itu telah diputar sebagaimana keadaannya ketika Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi. Tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Tiga berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab bulan Mudharr yang terdapat di antara Jumadi dan Sya’ban.” (HR. Muslim)
Karena itu, maksud bulan haram di sini adalah bulan yang disucikan, dimuliakan dan dihormati, yang wajib dijaga. Maka, dalam QS. at-Taubah: 36 di atas, Allah dengan tegas melarang kita melakukan kezaliman terhadap diri kita di bulan-bulan tersebut. Jika melakukan kezaliman di bulan-bulan lain dilarang, maka penegasan Allah atas larangan melakukan melakukan kezaliman di bulan haram ini menunjukkan larangan tersebut dosanya sangat besar. Begitu juga, kita dilarang menzalimi diri sendiri, maka larangan menzalimi orang lain tentu dosanya lebih besar lagi.
Karena itu, Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, Sya’b al-Iman Juz III hal370, menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan dosa yang dilakukan di bulan-bulan [haram] tersebut lebih besar. Begitu juga amal shalih dan pahalanya yang dilakukan di bulan-bulan haram tersebut juga sangat besar.
Rajab adalah kunci dari bulan-bulan terbaik yang datang sesudahnya. Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bulan Rajab bulan (saatnya) menanam(syahruz zar’i). Bulan Sya’ban bulan saatnya menyiram (syahrus saqi) dan bulan Ramadhan bulan menuai hasil (syahrul hashadi).”
Ketika bulan Rajab datang kaum muslimin dianjurkan berdo’a memohon keberkahannya, “Allahumma barik barik lana fi rajab wa sy’abana wa ballighna ramadlan” artinya, Ya Allah berkati kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan semoga kami bisa sampai pada Ramadhan”.
Diantara amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak puasa di bulan-bulan yang dimuliakan termasuk berpuasa di bulan Rajab. Nabi Saw bersabda: “Puasalah pada bulan-bulan Haram.” (HR. Ibnu Majah)
Bulan Rajab bisa juga dikenal dengan sebutan “Al-Ashamm” atau “yang tuli”, karena tidak terdengar gemerincing senjata pasukan perang pada bulan ini. Artinya bulan rajab bulan penuh ketenangan. Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu anha telah menuturkan, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:“Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah. Ia disebut al-Asham (si tuli). Orang Jahiliyyah, ketika telah memasuki bulan Rajab, mereka meninggalkan senjata mereka dan meletakkannya. Orang-orang pun bisa tidur, jalan-jalan pun aman. Mereka tidak takut satu dengan yang lain, hingga bulan tersebut berakhir.” (HR. al-Baihaqi)
Dalam catatan sejarah, di bulan Rajab adalah momen hijrahnya kaum Muslim yang pertama ke Habasyah, tahun ke-5 kenabian. Allah juga menjadikan bulan Rajab sebagai momen untuk mengisra’mikrajkan hamba-Nya tahun ke-10 kenabian.
Allah Swt berfirman: “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)
Rajab juga telah ditetapkan oleh Allah sebagai momen pertemuan pertama kali Nabi ﷺ dengan kaum Anshar, yang mempunyai kemuliaan, dimana melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Dengannya, kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga.
Rajab juga telah dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala momen istimewa peralihan kiblat kaum Muslim, dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Peralihan kiblat ini terjadi setelah enam belas atau tujuh belas bulan Nabi ﷺ hijrah ke Madinah. Itu terjadi di bulan Rajab.
Baitul Maqdis juga berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim di bulan Rajab, tepatnya 28 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi. Adzan dan Shalat Jum’at kembali dikumandangkan, dan dilaksanakan di masjid bersejarah itu, setelah 88 tahun diduduki tentara Salib.
Perlu diketahui pada 28 Rajab 1351 H/1924 M. Khilafah ‘Utsmani sebagai pemersatu dan pelindung umat Islam sedunia dihancurkan oleh Kemal Attaturk, bersama Inggris dan Perancis. Hingga hari ini tepat 100 th lamanya kaum muslim terpecah belah tanpa kekuatan tanpa persatuan.
Kita berharap untuk senantiasa bisa mengisi kemuliaan Rajab, menjaga kesucian dan kehormatannya, serta menjauhi sejauh-jauhnya kemaksiatan dan dosa yang bisa menistakan dan menodai kesucian dan kehormatannya.
Berharap pula bulan Rajab tahun ini adalah tahun pembebasan Palestina dan al Aqsha dari pendudukan Zionis Israil yang sudah 76 tahun menjajah, merampas, mengusir dan membantai umat Islam Palestina. Lebih – lebih dalam setahun ini merupakan puncak kejahatan zionis menghancurleburkan Gaza Palestina.
Moga Rajab menjadi momen dan spirit kaum muslimin kembali berjaya bersatu memimpin dunia.