Cegah Kebakaran Susulan, DLH Siapkan Pipa Gas Metana dan Empat Tandon Air di TPA Cikundul

Wartawan Iyus Firdaus

Pelitasukabumi.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat langkah mitigasi pascakebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul.

Sejumlah upaya disiapkan untuk mencegah kebakaran susulan, mulai dari penjagaan secara bergiliran, pemasangan pipa gas metana, penyediaan tandon air, hingga pengurugan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Yudi Sutriana, mengatakan pemantauan di area TPA tetap dilakukan setiap hari meskipun kondisi pascakebakaran telah memasuki tahap pemulihan.

“Petugas ditugaskan secara bergiliran untuk menjaga lokasi, memantau perkembangan kondisi lapangan, serta melaporkan hasil pemantauan kepada pimpinan,” kata Yudi, Rabu (21/10/2026).

Dia menambahkan, penjagaan tersebut dilakukan melalui beberapa jadwal, termasuk pemantauan pada pagi hari sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dan siang hari sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, disertai penugasan pada malam hari.

“Setiap hari kami menugaskan anak buah secara bergiliran untuk menjaga TPA, memantau, memonitor, dan melaporkan progresnya kepada kami. Ini bagian dari upaya mitigasi yang terus kami lakukan,” ujar Yudi.

Selain pengawasan rutin, DLH juga telah mengajukan rencana pemasangan pipa gas metana di zona yang sudah tidak aktif.

“Langkah ini penting karena gas metana masih dapat terbentuk dan terperangkap di dalam timbunan sampah meskipun zona tersebut sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun,” tegasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pemasangan pipa gas metana direncanakan menyasar zona 1 yang memiliki luas sekitar 1,5 hektare. Adapun zona 2 seluas kurang lebih 0,6 hektare disebut telah berhasil ditangani setelah kejadian kebakaran pada Sabtu lalu.

“Gas metana itu tetap ada meskipun zona sudah tidak aktif dan sudah bertahun-tahun. Karena itu, pemasangan pipanisasi sangat penting agar gas bisa keluar ke udara dan tidak terperangkap di dalam timbunan sampah,” katanya.

Rencana pemasangan pipanisasi tersebut juga berkaitan dengan pemenuhan sanksi dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait penutupan praktik open dumping.

DLH berharap pekerjaan tersebut dapat direalisasikan pada November mendatang, sesuai dengan rencana yang disampaikan Yudi.

Langkah mitigasi berikutnya adalah penyediaan empat tandon air di sejumlah zona, termasuk zona 1 dan zona 4.

Baca Juga :  ‎PDAM Kota Sukabumi Siapkan Rangkaian Acara HUT ke-50 dan Launching AMDK Tirta Bumi

DLH juga menyiapkan pengurugan timbunan sampah sebagai bagian dari upaya mengendalikan panas.

Menurut Yudi, penanganan tidak cukup hanya dilakukan pada zona aktif, tetapi juga harus memperhatikan zona nonaktif yang masih berpotensi menyimpan panas di dalam timbunan.

“Kalau sampah tidak diurug, hawa panasnya bisa tetap terperangkap, baik di zona aktif maupun nonaktif. Untuk zona aktif, anggarannya sudah tersedia,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pengawasan di lapangan, DLH berencana membangun posko penjagaan di sekitar jembatan timbang.

Keberadaan posko tersebut diharapkan dapat memastikan petugas tetap berada di lokasi dan memudahkan pengawasan terhadap aktivitas di area TPA.

Yudi juga menekankan pentingnya kedisiplinan seluruh pihak yang beraktivitas di TPA Galuga, termasuk pekerja dan pemulung.

Mereka diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan karena sumber api terbuka dapat memicu kebakaran, terutama ketika kondisi timbunan sampah dan cuaca mendukung terjadinya penyalaan.

“Kami tetap mengimbau masyarakat, pekerja, maupun pemulung yang masuk ke area TPA agar tidak membuang puntung rokok sembarangan. Ini harus menjadi perhatian bersama untuk mencegah kebakaran,” tegasnya.

Di sisi lain, penyemprotan untuk pendinginan juga terus dilakukan secara rutin menggunakan mobil tangki yang tersedia di lokasi. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengawasan lanjutan guna mengantisipasi munculnya kembali titik panas setelah kebakaran.

Yudi menyebutkan, berdasarkan pemantauan terakhir yang disampaikannya, titik api dan titik asap sudah tidak ditemukan. Pemantauan sebelumnya juga melibatkan penggunaan drone termal oleh Basarnas untuk mendeteksi potensi panas di area terdampak.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama menghadapi kondisi cuaca panas dan ekstrem. Karena itu, DLH menilai kombinasi pemantauan rutin, pengendalian gas metana, penyediaan cadangan air, pengurugan sampah, serta kedisiplinan seluruh pihak menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran berulang di TPA Cikundul.

“Di luar penanganan pascakebakaran, DLH juga mulai mempersiapkan diri menghadapi penilaian Adipura. Yudi memastikan pihaknya tetap mengikuti proses penilaian tersebut dan telah menjadwalkan rapat persiapan,” pungkasnya.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *