Wartawan Iyus Firdaus
Pelitasukabumi.id – Di tengah dinginnya malam cahaya puluhan lilin menerangi halaman Gedung Juang 45 Kota Sukabumi, Jumat (11/9/2026) malam.
Cahaya yang menerangi menjadi simbol harapan dan doa bagi lima jurnalis serta tiga kru kapal yang hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sekitar 30 batang lilin dinyalakan dalam aksi doa bersama yang digelar insan pers Sukabumi.
Para wartawan dari berbagai organisasi profesi, mulai dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), hingga Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Biro Sukabumi, berkumpul dalam suasana penuh keprihatinan.
Malam itu, profesi seolah dikesampingkan. Tidak ada sekat organisasi. Yang tersisa hanya satu kepedulian yakni berharap teman seperjuangan yang belum ditemukan dapat kembali dengan selamat kepada keluarga.
Ketua IJTI Korda Sukabumi Raya, Apit Haeruman, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus pengingat bahwa keselamatan tidak boleh ditempatkan di belakang kepentingan pemberitaan.
“Keselamatan jiwa harus menjadi yang utama. Kita harus lebih siap, lebih peka dan saling mengingatkan ketika rekan bertugas di lapangan agar tidak mengabaikan risiko,” ujarnya.
Menurut Apit, pesan keselamatan menjadi semakin penting bagi wartawan yang bertugas di wilayah dengan potensi bencana.
Kondisi geografis Sukabumi, kata dia, menuntut jurnalis memiliki kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan ketika berada di lapangan.
Ia berharap seluruh proses pencarian membuahkan hasil dan para jurnalis maupun kru kapal yang masih dinyatakan hilang segera ditemukan.
“Semoga Allah SWT senantiasa melindungi mereka dan segera mengembalikan ke pangkuan keluarga dengan selamat,” katanya.
Sementara itu, pewarta Kompas, Budiyanto, melihat musibah tersebut sebagai momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pola kerja jurnalistik, terutama saat meliput peristiwa berisiko tinggi.
“Kita berkumpul untuk saling mendoakan, sekaligus mengevaluasi bagaimana kita bekerja,” tegasnya.
Ia menilai mitigasi risiko harus menjadi bagian dari persiapan setiap wartawan sebelum memasuki lokasi bencana, kerusuhan maupun situasi ekstrem.
Menurutnya, pemahaman terhadap karakter lokasi, pemetaan potensi bahaya, kesiapan perlengkapan hingga penggunaan alat pelindung diri tidak boleh dianggap sebagai hal tambahan.
“Mitigasi risiko bukan pilihan, tapi keharusan. Setiap langkah ke lapangan harus diawali dengan antisipasi bahaya agar kita bisa menyampaikan berita dan tetap pulang dengan selamat,” jelas Budiyanto.
Nada serupa disampaikan Ketua PWI Kabupaten Sukabumi, Nuruddin Zain Syamsi atau Bah Anom.
Ia menilai pertemuan lintas organisasi profesi tersebut menunjukkan bahwa solidaritas wartawan masih menjadi kekuatan penting ketika sesama insan pers menghadapi musibah.
“Musibah ini mengingatkan bahwa tugas jurnalistik sering kali membawa kita ke tempat-tempat berisiko tinggi. Kewaspadaan, perhitungan risiko dan kepedulian terhadap rekan sejawat harus selalu kita pegang teguh,” ungkapnya.
Bah Anom mengingatkan bahwa hilangnya seorang jurnalis bukan hanya meninggalkan persoalan di lingkungan kerja.
Di baliknya terdapat keluarga yang menunggu kabar, kecemasan yang terus berlangsung, serta ketidakpastian yang tidak mudah dijalani.
Karena itu, ia berharap pencarian terhadap para korban segera menemukan titik terang dan memberikan kepastian bagi keluarga.
“Semoga kabar gembira segera datang dan mereka semua bisa kembali berkumpul bersama orang-orang yang dicintai,” harapnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo. Kehadiran kepolisian menjadi bentuk dukungan terhadap aksi solidaritas dan doa yang digelar kalangan pers Sukabumi.
Doa bersama kemudian ditutup dalam suasana hening. Lilin-lilin tetap menyala, sementara harapan terus dititipkan agar pencarian segera membuahkan hasil.
Malam itu, Gedung Juang 45 bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya para wartawan.
Tempat tersebut menjadi ruang refleksi bahwa di balik setiap berita ada manusia yang bekerja di garis depan menghadapi ketidakpastian, mengejar informasi, dan dalam situasi tertentu mempertaruhkan keselamatan.
Nyala lilin pun menjadi pesan sederhana namun kuat yaitu keberanian untuk menjalankan tugas jurnalistik harus selalu berjalan bersama kesadaran untuk menjaga keselamatan.

