Hikmah Dan Tujuan Isra Mi’raj

Oleh: Ust. Lathief Abdallah

Pelitasukabumi.id – Ragam penjelasan berbagai sisi hikmah periatiwa Isra Mi’raj. Ada yang menyingkap dari sisi spiritual (apa yang disaksikan Nabi), ritual (keutamaan shalat), dan ada yang melihat dari sisi political; rangkaian sejarah dan perubahan paska Isra’ Mi’raj. Sisi terkhir seperti dijelaskan oleh Dr. Abdurrahman Al-Baghdadi dalam bukunya “Refleksi Sejarah Terhadap Dakwah Masa Kini”, menjelaskan hikmah dan tujuan Isra dan Miraj, sebagi berikut;

Pertama tujuan Politik. Fakta kekuasaan politik Jazirah Arab saat Nabi diutus ada pada dominasi agama Yahudi dan Nasrani. Sistem yang rusak dan kepemimpinan yang zalim menuntut adanya pergantian. Akar kerusakannya diungkap oleh Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman, “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri) kemudian berkata, Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah.”(QS.Al-Baqarah (2): 79)

Dalam perjalanan Isra, sebelum ke Baitul Maqdis (Masjid Aqsha) Nabi mampir ke Yatsrib (Madinah), Madyan, Thursina (Mesir) dan Betlehem (Palestina). Tempat-temoat tersebut menjadi bisyaah (kabar Wahyu) kelak akan menjadi wilayah kekuasaan Islam. Terbukti 2 tahun pasca Isra’ Mi’raj Nabi hijrah ke Yatsrib sekanjutnya disebut Madinah, dan beliau SAW menjadi pemimpin di sana yang di kemudian hari jazirah arab ada dalam kekuasaannya.

Kedua memperteguh kejiwaan Nabi. Sebelum Isra’ Miraj Nabi mengalami tekanan mental luar biasa dari orang-orang kafir terutama pada saat dua pendukung dan pelindung beliau yaitu paman dan istrinya wafat. Bully, intimidasi dan perskusi kian mengancam. Maka melalui Isra’ Mi’raj Allah memperlihatkan sebagian tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya (Q.S. Al-Isra’ (17): 1), (An-Najm (56): 18). Agar kejiwaan dan mental Nabi semakin kokoh.

Baca Juga :  Lebih Dekat Dengan Al Qur'an

Ketiga. Seleksi keimanan manusia. Keimanan perlu diuji apakah sebatas pengakuan atau ketundukan. Setelah Nabi SAW menyampaikan peristiwa yang beliau alami, orang kafir makin kencang kekafirannya, orang yang sejak awal imannya tidak serius mulai bergeser kepada kekufuran. “Dan Kami tidak menjadikan rukyah (penglihatan nyata) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.” (Q.S. Al-Isra: 60)

Akan tetapi mereka yang imannya totalitas tanpa ada keraguan sedikitpun membenarkan semua yang disampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Sikap Abu Bakar mewakili orang-orang yang beriman secara total. Saat beliau ditanya tentang peristiwa Isra’ Mi’raj dimana sebagian orang meragukannya, dia menjawab dengan tegas. “Apa yang mesti kalian herankan dari peistiwa tersebut? Demi Allah, ia (Rasulullah saw.) malah telah mengabarkan kepadaku suatu kabar (Wahyu) berasal dari langit (dari Allah Swt.) ke bumi hanya dalam tempo sekejap, baik waktu malam ataupun siang, dan aku membenarkannya. Ketahuilah, kejadian itu jauh lebih mengherankan dari peristiwa yang kalian tanyakan ini!“ (H.R. Hakim)

Keempat. Misi universal kemasyarakatan. Disebutkan dalam hadits bahwa di Baitul Maqdis Nabi mengimami shalat berjamaah yang makmumnya para nabi dan rasul sejak nabi Adam As. Ini menunjukkan pengakuan akan misi syari’at Muhammad saw, untuk seluruh manusia. Berbeda dengan para utusan sebelumnya yang terbatasi oleh zona bangsa tertentu. “Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya,” (QS. Saba’ (34): 28).

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Punten Teu Kenging Copas nya, Mangga hubungin IT Pelitasukabumi.id 081563116193