Wartawan Usep Mulyana
Pelitasukabumi.id – Pemerintah Kota Sukabumi tengah menyiapkan pola baru untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak.
Bukan dengan menaikkan tarif, Pemkot justru mendorong masyarakat membangun kebiasaan menabung secara rutin untuk memenuhi kewajiban pembayaran PBB-P2 dan opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan bersama Bank BJB yang dihadiri seluruh camat, lurah, serta jajaran Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Sukabumi.

Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki mengatakan, pola menabung menjadi salah satu solusi agar masyarakat tidak merasa berat ketika waktu pembayaran pajak tiba.
Ayep menambahkan, masyarakat dapat menyisihkan uang dalam jumlah kecil setiap minggu sesuai besaran pajak yang harus dibayarkan.
“Misalnya kewajiban pembayaran PBB-P2 dan opsen sebesar Rp300 ribu, masyarakat cukup menabung Rp6 ribu per minggu selama 50 minggu. Jadi ketika waktunya membayar, uangnya sudah tersedia,” ujar Ayep usai kegiatan sosialisasi PAD di ruang pertemuan BJB, Senin (7/9/2026).
Ia berharap pola tersebut dapat mengubah kebiasaan masyarakat sekaligus mengurangi tunggakan pajak yang selama ini masih menjadi persoalan.
Ayep menegaskan, kebijakan tersebut tidak akan diikuti dengan kenaikan tarif pajak.
Pemerintah hanya berupaya meningkatkan tingkat kepatuhan masyarakat agar potensi pendapatan yang ada dapat benar-benar terealisasi.
“Kalau pola ini dilaksanakan dengan baik, kemungkinan kenaikan pendapatan bisa sampai 100 persen. Tapi bukan tarif pajaknya yang naik, melainkan pendapatannya karena tingkat pembayaran masyarakat meningkat,” tegasnya.
Selain mendorong optimalisasi pajak, Pemkot Sukabumi juga berharap penghimpunan zakat, infak, dan sedekah melalui Baznas dapat berjalan lebih maksimal.
Untuk tahun ini, target penghimpunan zakat, infak, dan sedekah dipatok mencapai Rp19 miliar. Namun, Ayep mengakui target tersebut tidak mudah dicapai mengingat masih banyak target pendapatan yang belum terealisasi secara maksimal.
“Kita berharap target-target itu bisa tercapai. Memang tidak mudah, tetapi dengan pola yang tepat dan dukungan masyarakat, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lebih lancar,” katanya.
Di sisi lain, Ayep juga menyoroti kondisi abu vulkanik yang sempat menjadi perhatian masyarakat Kota Sukabumi. Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Sukabumi meliburkan sementara kegiatan belajar tatap muka bagi siswa TK, SD, dan SMP.
Meski para siswa belajar dari rumah, kegiatan pendidikan tetap berjalan melalui pembelajaran daring yang dilakukan oleh tenaga pengajar sesuai jadwal yang telah ditentukan.
“Kalau kondisi sudah mereda dan debu sudah tidak ada lagi, maka aktivitas akan kembali normal,” ujarnya.
Pemkot Sukabumi juga telah melakukan pembagian masker sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat dari dampak sebaran abu vulkanik.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Sukabumi berharap masyarakat tidak hanya semakin disiplin dalam memenuhi kewajiban pajak, tetapi juga memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai kondisi yang berdampak terhadap aktivitas sehari-hari.

