Mudik Tanpa Balik

Oleh. Lathief Ab (Pengasuh Pondok Baitul Hamdi)

Pelitasukabumi.id Macet arus mudik dan arus balik di antara berita media yang ramai dibicarakan di setiap lebaran. Menurut laporan kompas.com, pada arus mudik dan balik Lebaran 2026 tercatat meningkat 11,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan hasil pemantauan Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026 pada 13–24 Maret atau H-8 hingga H+3, pergerakan keberangkatan penumpang angkutan umum mencapai 15.397.417 orang.

Mudik bermakna kembali dari perantauan. Secara bahasa, mudik dari kata udik bermakna kampung halaman. Orang udik bermakna orang kampung lawan kata dari kota. Udik juga bermakna hulu sungai, pusat air mengalir. Secara umum, orang mudik karena merindui asal kampung kelahiran, ingin bertemu orang tua dan sanak saudara.

Mudik terbesar biasanya terjadi karena lebaran (Hari Raya Idul Fitri). Orang mudik pasti mempersiapkan bekal atau oleh-oleh, kendaraan, membawa peta atau google map agar tidak tersesat di jalan. Maka kita saksikan jutaan orang mudik membawa bekal menaiki berbagai kendaraan. Mereka rela burjubel, macet dan antrian. Semua dilakukan karena kangen kampung halaman, rindu pada leluhur dan handai taulan.

Mudik di atas hanyalah sementara, mereka akan balik kembali ke tempat semula. Sesunggunya semua manusia akan mudik besar-besaran. Mudik yang tak akan pernah kembali. Yaitu mudik dari kampung dunia menuju kampung akhirat. “Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ma’idah: 105)

Dunia sendiri adalah tempat merantau sementara. Hanya numpang lewat saja, kata nabi. Manusia dibatasi oleh kematian dan alam semesta dibatasi oleh kiamat. “Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah: 36).

Semua manusia pasti mudik tanpa balik. mudik ke akhirat, tujuannya ke kampung bernama “al Jannah” (surga). Dimana asal nenek moyang seluruh manusia , Adam dan Hawa tinggal disana “Dan Kami berfirman : Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu.” (QS. Al-Baqarah : 35)

Dunia ini hanya perantauan untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Q.S. Al-Qashshash: 77)

Baca Juga :  Khutbah Jumat "TIGA ESENSI HALAL BI HALAL"

Hanya saja perbekalan yang kita kumpulkan bukanlah sejumlah rekening, uang, mobil, makanan, pakaian, emas permata dll. Semua itu akan ditinggal dan akan lenyap, semua hanya kesenangan senda gurau di dunia semata. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (Q.S. Al-Ankabut: 64).

Perbekalan kita hanya dua macam, yakni iman dan amal saleh, ” Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S.Saba’:37)

Kendaraan menuju akhirat yang kita butuhkan bukanlah mobil pribadi, bis, kereta, atau pesawat, tapi kendaraan yang menapaki jalan lurus (shirathal mustaqim) menuju Jannah, yakni Dinul Islam. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Q.S. Ali Imran: 85).

Tentang peta jalan atau googlemap agar tidak tersesat dan terhindar dari penunjuk arah palsu, kita memiliki panduan pasti yang keakuratannya dijamin 100%. Dialah al-Qur’an. “Sesungguhnya Al-Qur`ân ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus (Q.S. al-Isrâ: 9)

Dengan perbekalan iman dan amal saleh, kendaraan dan pentunjuk yang benar, maka perjalanan menuju kampung halaman Jannah akan sampai.
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa“ (Q.S. Al An’am:153).

Sementara mereka yang tidak berbekal iman dan amal, tidak berkendaraan Islam dan tidak menggunakan petunjuk jalan al-Qur’an, maka mereka tidak akan sampai ke tujuan bahkan terperosok kejalan kesesatan yang jauh. Akhirnya yang dituju bukanlah kampung halaman ‘Jannah’, surga yang membahagiakan. Tapi jurang api neraka, annar, yang sangat menyedihkan.”(yaitu) orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada (kehidupan) akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan (jalan yang) bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (Q.S. Ibrahim: 3).

Persiapkan seluruh perbekalan dan sarana untuk mudik agar selamat sampai tujuan.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *