Awal Tahun Kota Sukabumi Dilanda 44 Kali Bencana, Nilai Kerugian Ditaksir Rp3,2 Miliar

Wartawan Usep Mulyana

Pelitasukabumi.id – Sejak awal tahun 2026, Kota Sukabumi didera 44 kali bencana. Secara total agregat kerugian mencapai Rp3,277 miliar.

Akumulasi peristiwa bencana yang terjadi sejak Januari itu masih didominasi oleh cuaca Ekstrem

Data tersebut dihimpun melalui Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan) dan tersebar di tujuh kecamatan di wilayah Kota Sukabumi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, menyebutkan bahwa

“Dari seluruh kejadian tersebut, cuaca ekstrem dengan 40 kejadian, disusul kebakaran permukiman sebanyak empat kejadian,”kata Kalak BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, Senin (9/2/2026).

Sedangkan luas area terdampak sekitar 2,178 hektare. Akibat bencana itu, sebanyak 31 kepala keluarga terdampak dengan total 60 jiwa.

Selain itu, tercatat 36 unit bangunan mengalami kerusakan, terdiri atas 5 unit rusak berat, 6 unit rusak sedang, dan 25 unit rusak ringan.

Kerugian Terbesar dari Kebakaran Permukiman
Meski frekuensinya lebih rendah, kebakaran permukiman menyumbang nilai kerugian terbesar, yakni sekitar Rp 2,114 miliar dengan luas area terdampak 1.403 meter persegi.

Sementara itu, bencana cuaca ekstrem menimbulkan kerugian sekitar Rp 1,162 miliar dengan area terdampak 775 meter persegi.

Dari sisi wilayah, Kecamatan Gunung Puyuh dan Kecamatan Lembursitu tercatat sebagai daerah dengan kejadian terbanyak, masing-masing delapan kejadian.

Disusul Kecamatan Warudoyong (tujuh kejadian), Baros, Cibeureum, dan Cikole (masing-masing enam kejadian), serta Citamiang (tiga kejadian). Kecamatan Baros menjadi wilayah dengan nilai kerugian tertinggi, mencapai sekitar Rp 1,44 miliar.

Baca Juga :  Menatap Juara Liga 1, Polres Sukabumi Kota Menggelar Nobar Final Leg Kedua Persib Vs Madura United

Sementara Citamiang mencatat nilai kerugian terendah, yakni sekitar Rp 31,5 juta.
Pengaruh La Nina Lemah

Yoseph menjelaskan, tingginya kejadian cuaca ekstrem pada Januari dipengaruhi oleh kondisi iklim global. Berdasarkan analisis Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Indeks Dipole Mode (IOD) berada pada fase netral, sedangkan fenomena La Nina lemah masih aktif dan diprediksi bertahan hingga awal 2026.

“Selain itu, peringatan dini curah hujan tinggi juga diberlakukan pada Dasarian III Januari 2026 untuk sejumlah wilayah di Jawa Barat dengan status waspada hingga siaga,” terangnya.

Sebagai langkah antisipasi dan penanganan, BPBD Kota Sukabumi telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana melalui Surat Keputusan Wali Kota Sukabumi yang berlaku hingga 30 April 2026.

BPBD juga menggelar Posko Kolaborasi Aksi Siaga Bencana selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 bersama TNI, Polri, serta komunitas kemanusiaan.

Selain itu, bantuan logistik telah disalurkan kepada warga terdampak, baik dari BNPB, BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kota Sukabumi, maupun sumber CSR, berupa paket sembako, selimut, matras, hingga bahan bangunan.

“Upaya penanggulangan terus kami lakukan, mulai dari prabencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana, termasuk koordinasi lintas sektor untuk meminimalkan risiko bencana ke depan,” pungkasnya.

Bagikan Pelitasukabumi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *